Garden of Flowers , Kabir

garden of flowers

Garden of Flowers

Do not go into the garden of flowers

O friend, go not there.

In your body is the garden of flowers.

Take your seat on the thousand petals of lotus

and there gaze upon the infinite beauty.

There is a strange tree,

which stands without roots,

bears fruits without blossoming.

It has no branches and no leaves.

It is Lotus all over.

Two birds sing there:

One is the Guru and the other the disciple.

The disciple chooses the manifold fruits of life

and tastes them

And the Guru beholds him in joy.

Kabir

in indonesia

Taman Bunga , Kabir

Taman Bunga

Jangan pergi ke kebun bunga

O teman, jangan  pergi .

Di dalam tubuh Anda adalah taman bunga.

Duduk Anda pada seribu kelopak teratai

dan ada memandangi keindahan tak terbatas.

Ada pohon yang aneh,

yang berdiri tanpa akar,

beruang buah-buahan tanpa berkembang.

Ini tidak memiliki cabang dan tidak ada daun.

Ini adalah seluruh Lotus.

Dua burung bernyanyi di sana:

Salah satunya adalah Guru dan murid yang lain.

Murid memilih buah manifold kehidupan

dan selera mereka

Dan Guru memandangi dia dalam sukacita.

Kabir

BEBERAPA PUISI INDAH LAINNYA DARI KABIR

POEMS OF KABIR

Al-Kabir (“Besar”) juga salah satu dari 99 nama Allah dalam Islam.

Penyair Kabir Lahir tahun 1440, di Pratapgarh, Uttar Pradesh, India dan meninggal  tahun1518

Kabir (juga Kabira) (Urdu: کبير) (1440-1518) [1] adalah seorang penyair mistik dan suci dari India. Nama Kabir berasal dari bahasa Arab Al-Kabir yang berarti ‘The Great’ – 37 Nama Allah dalam Al Qur’an.
Puisi puisi Kabir mennjukan bahwa beliau adalah seorang yang telah mencapai pencerahan ilahi dengan jalan Cinta

Inilah rangkaian puisi puisi indah tersebut

1.
Kasih, kemana kau mencari Ku ?
Aku berada di sampingmu.
Aku tidak berada di kuil, tidak di masjid.
tidak di Kaaba, tidak di Kailash pula;
Kau tidak akan menemukan Ku di lewat upacara.
Tidak pula di latihan dan pengasingan diri dari dunia.
Bila kau sungguh mencari,
kau akan menemukan Ku di sini, sekarang juga.
“Wahai Jiwa Tenang, Tuhan berada dalam setiap napasmu,”
demikian Kabir berkata.
2.
Untuk apa mencari tahu latar belakang seorang Insan Allah ?
Para ulama, ksatria, pengusaha, setiap manusia sedang mencari Nya.
Sungguh bodoh bila kita masih ingin tahu latar belakang para pencinta.
Latar belakang tak jadi soal, mereka semua adalah pencari Allah.
uPara Fakir Muslim dan para Pertapa Hindu,
semua merindukan Nya.
Hinda, Muslim, siapa saja dapat mencapai Nya.
Di dalam Nya semua perbedaan sirna.
3.
Kawan, cari Dia, kenali Dia, pahami Dia selagi kau masih hidup.
Karena kebebasan mutlak hanya dapat diperoleh dalam hidup.
Kebebasan apa yang kau harapkan setelah kematian,
bila selagi hidup kau masih belum bebas dari keterikatan ?
Pertemuan dengan Nya setelah badan sirna, hanyalah sebuah mimpi, khayalan belaka.
Bila kau menemukan Nya di sini, sekarang juga,
kau pasti menemukan Nya di sana.
Bila tidak, hanya maut yang akan kau temui di sana.
Pertemuanmu di sini menjamin pertemuanmu di sana.
Hiduplah dalam kebenaran,
kenali penuntunmu, ikuti petunjuk Nya!
Jiwa yang senantiasa mencari akan menemukan Nya.
“Aku mengabdi kepada Jiwa Pencari yang tak pernah berputus asa,”
demikian Kabir berkata.
4.
Janganlah kau pergi ke Taman Bunga.
Untuk apa ke sana ?
Temukan Taman Bunga di dalam dirimu,
Duduklah di tengah teratai berkelopak seribu,
Dan lihat, saksikan Keindahan Nya,
Yang Tak Terbatas, Tak Terhingga.
5.
Katakan kawan,
bagaimana membebaskan diri dari Maya, dari ilusi dunia ?
Tali pengikat sudah kulepaskan,
tapi bajuku masih tetap ada.
Ketika baju pun kulepaskan,
lipatannya masih membekas,
aku tetap juga tidak bebas.
Saat kulepaskan nafsu,
kulihat amarah masih tersisa.
Dan saat amarah terlepaskan,
keserakahan masih tetap ada.
Bebas dari keserakahan,
aku tetap terjerat oleh keangkuhan.
Pada suatu ketika, pikiranpun terbebaskan dari Maya;
Namun, ia tetap tidak bebas dari nama dan rupa.
Wahai jiwa tenang yang kucintai,
Jalam menuju Nya sungguh jarang ditemui.
6.
Bulan bersinar di dalam tubuhku, mataku tak melihatnya;
Bulan berada di dalam diriku, demikian pula sang surya.
Keheningan abadi dalam diri senantiasa bergema,
telinga tak mendengar iramanya.
Selama “aku” dan “milikku” berperan,
Karya Tuhan tak terlihat oleh insan.
Bila “aku” dan “milikku” sirna,
Karya Nya pun terlihat jelas, sempurna.
Hidup di dalam dunia
untuk menggapai Kesempurnaan semata-mata.
Tugasmu selesai,
Bila itu sudah tercapai.
Mekarnya bunga menandai kelahiran buah,
mereka layu setelah pohon berbuah.
Wangi Mushq berasal dari dalam diri rusa,
ia malah mencarinya di luar sana.
Tergoda oleh rumput hijau
akhirnya pencarian pun terlupakan olehnya.
7.
Bila Ia berkenan, atas Kehendak Nya,
Sang Pencipta pun mengungkapkan
apa yang tak terungkap sebelumnya.
Seperti benih di dalam tumbuhan,
seperti pohon dan di dalamnya kerindangan,
seperti kehampaan di langit biru,
dan wujud-wujud tak terhingga di dalam kehampaan itu;
persis seperti itu pula,
ketakterbatasan lahir dari Yang Telah Melampaui Nya.
Dan, keterbatasan hanyalah pengungkapan Nya.
Ciptaan ada di dalam diri Sang Pencipta,
Dan Sang Pencipta ada di dalam ciptaan Nya.
Terpisah tampaknya, namun selalu bersama adanya.
Ialah benih, biji dan pepohonan.
Ialah bunga, pohon dan kerindangan.
Ia pula matahari, bulan, cahaya dan yang dicahayai Nya.
Ialah Pencipta, Ciptaan dan Hijab, Maya, Ilusi di antaranya.
Di dalam wujud yang serba terbatas,
dan di dalam Kasunyataan Abadi Yang Tak Terbatas,
Ialah Napas Hidup, Suara Awal dan Makna setiap Kata,
Keterbatasan dan Ketakterbatasan, Dialah kedua-duanya.
Sang Jiwa Agung berada di dalam dirimu,
sebagaimana kau, bagai titik kecil, berada di dalam Nya.
Sungguh ajaib, di dalam titik itupun,
Tampak jelas Banyangan Nya.
Kabir sungguh beruntung,
karena telah melihat Nya.
8.
Dalam bejana tanah liat seisi dunia terlihat;
Di balik semuanya jelas pula Sang Pencipta.
Dalam bejana tanah liat, terengkuh lautan luas.
Terlihat pula bulan dan bintang,
jumlahnya tak terbilang.
Batu dan Penaksir Permatapun terlihat jelas.
Dan, terdengar suara Nya yang khas,
Kabir berkata, “Dengarkan temanku,
telah kutemukan Tuhan Terkasih di dalam diriku.”
9.
Bagaimana mengungkapkan rahasia itu ?
Bagaimana mengatakan Ia tidak seperti ini,
tidak pula seperti itu ?
Jika kukatakan Ia berada di dalam diriku,
alam semesta pasti tersipu malu.
Tapi aku akan berdusta pula,
bila kukatakan Ia ada di luar sana.
Dunia luar dan dunia dalam telah dipersatukan oleh Nya.
Kesadaran dan Ketaksadaran berasal dari Nya.
Tidak Nyata, Tidak Terlihat,
namun juga Tidak Gaib, Tidak Tersembunyi,
Kata-kata sungguh tak mampu
mengungkapkan Rahasia Nya!
10.
Dengan suara Mu yang merdu,
Kau menyapa dan membangunkanku,
kemudian Kau rampas cintaku,
dan Kau jadikan milik Mu, wahai Fakir!
Aku hampir hanyut dalam lautan suka dan duka,
Kau datang sebagai Penyelamat Jiwa.
Dan, hanya dengan satu kata, tak ada kata kedua
Kau membebaskan aku dari keterikatan segala, wahai Fakir!
“Jiwaku telah Kau persatukan dengan jiwa Mu, wahai Fakir,”
demikian kata Kabir.
11.
Sepanjang hidup aku hanya bermain,
sekarang rasa takut menyelimutiku.
Sungguh tinggi tangga menuju Rumah Nya,
dan aku merasa tak berdaya.
Namun rasa takut harus kuatasi,
bila ingin bertemu dan berpelukan dengan Yang Kukasihi.
Tirai yang memisahkan kita, harus kuangkat segera,
karena untuk memuja Nya, aku harus menatap Wajah Nya.
“Hanya seorang Pencinta,” kata Kabir,
“yang dapat memahami derita rinduku.
Untuk apa berdandan dan menghias diri,
bila kau tak merindukan kekasihmu.”
12.
Wahai Angsa, ulangi ceritamu untukku dari mana kau,
dan kepantai mana kau pergi ?
Apa kau tak lelah ? Apa lagi yang kau cari ?
Bangkitlah ANgsa, ikuti aku!
Akan kutunjukkan kepadamu sebuah tempat yang penuh suka cita.
Tak ada lagi ancaman maut, keraguan dan derita.
Dimana musim semi tak pernah berakhir, udaranya segar;
dan wangi Tauhid “Dialah Aku,” senantiasa menyebar.
HAtimu pasti terpikat dan berhenti mencari,
bila sudah menemukan kebahagiaan yang tertinggi.
13.
Wahai Allah yang Tak Tercipta,
adakah yang memuja Mu ?
Para pemuja hanya memuja Tuhan ciptaan mereka, tak sempurna.
Tak seorangpun memuja Ia Yang Maha Sempurna.
Mereka percaya kepada Nabi, kepada Wali, kepada Avatar,
pada Perwujudan Illahi.
Padahal tak seorangpun yang bebas dari hukum karma.
Mereka bukanlah Yang Maha Tinggi.
Bahkan diantara merekapun hingga kinipun masih memperdebatkan kebenaran Nya.
“Saudaraku,” kata Kabir,
“Keselamatan hanya dapat diraih,
bila kau telah melihat Wajah Nya yang berkilau karena cinta.
14.
Air dalam sungai dan gelombangnya, tak pernah terpisah.
Dimanakah perbedaannya?
Saat gelombang muncul, ia adalah air, saat ia menghilang, wujudnya tetaplah air.
GUnakan kearifanmu untuk melihat,
Yang Maha Tinggi ibarat benang tasbih yang tak terlihat.
Segalanya yang terlihat dalam dunia benda,
bagaikan biji-biji tasbih yang dipersatukan oleh Nya.
15.
Dimana Raja segala musim, Musim Semi berkuasa,
dan Irama Illahi senantiasa bergema;
dari sanalah berasal cahaya yang menerangi alam semesta.
Namun hanya segelintir yang pernah menyeberang ke sana.
Kulihat jutaan avatar dan dewa berjaga di depan pintu Mu.
Ya Tuhan Ku, di sanalah rumah Mu, itulah rumah Mu.
16.
Di antara dua tiang kesadaran dan ketaksadaran,
pikiran terus berayun.
Padanya bergantung segala sesuatu dalam dunia benda.
Zaman berlalu, musim silih berganti, ayunan abadi tak pernah henti.
Jangankan mentari dan bulan, langit, bumi, udara dan air,
Dia pun kadang mewujud dan bermain ayunan.
Melihat permainan itu, Kabir sungguh terpesona,
tak ada yang dapat diperbuat kecuali mengabdi kepada Nya.
17.
Matahari, bulan dan bintang bercahaya
bersama di tempatnya;
Irama Kasih pun senantiasa bergema
Membebaskan kita dari keterikatan tak her-
guna.
“Di sana,” kata Kabir, “Kasihku berkilau seperti petir di langit biru.”
Sang Kala senantiasa memuliakan-Nya.
Siang dan malam, alam semesta memuja-Nya.
Genta dan alat-alat musik lain tak terlihat oleh mata,
namun suaranya terdengar jelas oleh telinga.
Kabir bersaksi, “Takhta-Nya telah kulihat,
kulihat pula alam semesta memuja-Nya setiap saat.”
Sayang, manusia tak mengenal-Nya,
ia sibuk berkarya tanpa mengenal Cinta.
Dalam diri seorang pencinta,
dua aliran sungai bertemu, bersanggama.
Aliran Kasih, Cinta—itulah aliran pertama;
dan, Ketakterikatan—itulah aliran kedua.
Dengan mengikuti arus kehidupan,
terbebaskanlah ia dari kelahiran dan kematian.
Betapa indahnya hidup dalam Allah,
kenikmatan demi kenikmatan tak terhingga.
Bergelayut pada seutas tali kasih,
berayun dalam kebahagiaan sejati,
senantiasa ia bersukacita dan bernyanyi:
Tanpa air, tetap mekar Teratai Pencerahan Diri!
“Dan,” kata Kabir, “senantiasa, Tawon Hatiku menikmati madunya.”
Sungguh indah, betapa menakjubkan,
Teratai Pencerahan tumbuh dan mekar di
tengah kegaduhan.
Hanyalah Jiwa Agung nan Bersih
yang memahami arti Teratai itu.
Hanyalah mereka yang mendengar Irama Ilahi,
dan berenang dalam Samudra Kebahagiaan Abadi.
“Berada dalam Samudra itu senantiasa,
Dirimu bebas dari kelahiran dan kematian,”
demikian Kabir berkata.
Kehausan Panca Indra hilang seketika,
duka kelahiran, kehidupan, dan kematian pun
sirna.
“Ketinggian-Nya Tak Tergapai,” Kabir ber-
saksi,
“namun Kehadiran’Nya terasa di dalam diri.”
Terdengar setiap saat di dalam diri,
Irama Kehidupan dan Kematian tanpa henti,
itulah hama Cinta, Irama Kasih;
dan, setiap sudut ruang pun tersinari oleh Cahaya-Nya, Cahaya Ilahi.
Menyala serentak, jutaan bulan, bintang dan pelita;
Diiringi suara gendang,  menarilah para pencinta.
Terdengar senantiasa lagu-lagu cinta,
sementara langit menurunkan hujan cahaya.
Basah kuyup karenanya,
mabuk kepayang para pencinta.
Bagi mereka, hidup dan mati sama,
kanan dan kiri tiada beda.
“Para ulama tak habis berpikir,
karena pengalaman mereka,” kata Kabir,
“tak terjelaskan oleh Veda, oleh kitab mana saja.”
Sekarang, aku bersama Dia Yang Maha Ada;
Aku telah mencicipi Kasih-Nya; Terungkap sudah Tabir-Nya;
Dasar Yang Mempersatukan telah kutemukan pula.
Tak ada jejak yang kuikuti,
tanpa panduan yang berarti,
aku telah menemukan Tanah Bebas Derita itu,
sungguh luar biasa Kasih-Nya terhadapku.
Kata mereka la Tak Terjangkau, Tak Tergapai,
Dengan mudah kutemukan Dia di dalam diri.
Tak seorang pun dapat membebaskan dirimu dari penderitaan.
Tanah Bebas Derita harus kau tuju sendiri,
dengan meniti jalan ke dalam diri.
Sungguh suci dan penuh berkah Tanah Bebas Derita,
namun amal saleh saja tak dapat mengantarmu ke sana.
Yang dapat mengantarmu hanyalah Kesadaran Diri;
yang dapat mengantarmu hanyalah Berkah Illahi.
Mereka yang sudah sampai, telah melihat,
bersukacita setiap saat.
Di sana berakhirlah kata-kata,
tak terungkap pula kemuliaan-Nya.
“Yang tidak sadar menjadi sadar, di sana;
yang sadar membisu seribu kata;
para pencinta mencapai kesempurnaan dalam
cinta,dan dalam ketakterikatan pada dunia.
Mereka bernapas dalam cinta,” demikian Kabir berkata.
Langit di sana bergema dengan Irama Ilahi
setiap saat,
Alat-alat musik dimainkan oleh tangan-tangan tak terlihat.
Berakhir sudah permainan suka dan duka;
“Bila kau mengalir bersama hidup,” Kabir berkata,
“kau pasti sampai di sana,
kau pasti menemukan Pantai Bahagia.”
Sungguh memabukkan Anggur Ilahi yang disajikan dalam cawan sorgawi.
Bila saja kau pernah mencicipinya, kau akan tahu bahwa Kabir tak berdusta.
Telah kubuang jauh dari hidupku segala sesuatu yang palsu.
Kabir bersaksi: “Para pencinta terbebaskan dari rasa takut;
mereka berani hidup dan tidak takut sama maut.”
Sungguh indah istana-Nya di tengah langit,
di sana matahari tak pernah terbenam, tak
pernah terbit.
Dalam Cahaya Kasih Ilahi yang menerangi
tempat itu, siang dan malam menjadi satu.
Tak ada lagi pertikaian dan penderitaan,
yang ada hanyalah Kebahagiaan.
Sungguh hanya di sana saja,
kebahagiaan menjadi sempurna.
Kabir bersaksi: “Aku telah menyaksikan Permainan
Dia Yang Maha Membahagiakan.”
Ragaku ini hanyalah tempat Ia bermain,
sebuah lapangan di mana semesta bermain.
Dan, pengetahuan itu telah membebaskan diriku
dari segala pandangan yang keliru.
Apa yang ada di luar diri,
dan apa yang ada di dalam diri,
yang terwujud dan yang tak terwujud telah melebur-baur menjadi satu.
Menyaksikan semua itu, menjadi mabuk diriku.
Alam semesta menjadi terang karena Cahaya-Nya,
Cahaya Kasih yang muncul dari Kesadaran Murni;
Melihat semua itu, Kabir berkata,
“Sekarang kegelapan tak lagi mengganggu.
Bebas sudah diriku,
dari kelahiran, kematian,
dan keterikatan yang membelenggu.”
18.
Cahaya Ilahi menerangi Sanubari Manusia,
di mana la bersemayam;
Irama Ilahi bergema senantiasa,
di mana Tuhanku bersemayam;
Cahaya-Nya tak tertandingi
oleh jutaan bulan dan matahari.
Hujan berkah pun turun terus
membasahi jiwa-jiwa tandus.
“Wahai sahabatku yang berada pada jalur lurus,
datang dan lihatlah, betapa indahnya Rumah Allah!”
19.
Wahai hatiku yang masih tertidur,
Sang Jiwa Agung, Sang Guru sudah berada di sampingmu,
bangkitlah, bangkitlah hatiku! Banyak waktu yang telah kau sia-siakan,
masih mau tidur sampai kapan?
Hari sudah siang, Bangkitlah sekarang!
20.
Menyeberang ke mana maumu?
Pantai mana yang hendak kau tuju?
Tanpa kawan seperjatanan, tanpa pemandu,
apa yang kau harapkan dari tempat itu?
Tak ada perahu,
tak seorang pun mengantarmu.
Tak ada langit, tak ada bumi di sana;
tak ada pikiran, perasaan, maupun raga.
Jiwamu akan tetap haus di sana.
Hatiku sayang, janganlah kau ke mana-mana.
“Masuki dirimu, yang kau cari ada di sana.
Untuk apa mengejar bayang-bayang di luar?”
demikian Kabir berkata.
21.
Setiap rumah terang karena Pelita-Nya;
matamu tertutup, dan kau tak melihat-Nya.
Tapi, pada suatu saat kau pasti melek kembali,
dan menyaksikan permainan Nur Ilahi.
Saat itu kau tak akan takut maut lagi.
Karena sesungguhnya tak ada yang perlu kau
takuti.
Ia yang hidup, tapi mati,
tidak bisa mati lagi.
Hidup tapi mati berarti
hidup dalam keheningan diri.
Seorang Yogi hidup jauh dari dunia ini
sekaligus dekat
karena ia hidup dalam diri.
Begitu dekatnya Dia,
untuk apa mencari-Nya di luar sana?
Para pendeta sibuk mengajarkan agama,
kau sibuk memuja berhala;
padahal la Yang Maha Hadir,
hadir pula di dalam dirimu, demikian kata
Kabir:
“Sungguh tak terjelaskan Manis-Nya!
Apa pun yang kau lakukan untuk mendekati-Nya,
baik, buruk—la melampaui segalanya.
Semuanya tak berarti bagi Dia.”
22.
Hatiku mencari seorang Guru, sobatku,
Seorang pemandu yang telah mencicipi Kasih-Nya,
dan bersedia untuk berbagi denganku,
sedikit kasih dari cawan yang sama,
Ia yang dapat membuka mata hatiku,
sehingga WajahNya terlihat jelas olehku.
Ia yang menyimpan rahasia semesta di balik
wujud-Nya.
Ia yang mewakili Suara Allah.
Ia yang dapat menyadarkan diriku,
bahwa suka dan duka sesungguhnya sama,satu,
Ia yang penuh kasih ucapannya.
Kabir  berkata:  “Setelah bertemu  dengan Guru,
“bebaslah kau dari rasa takut dan derita.
Karena Ia sudah pasti menuntunmu
ke tempat yang aman dan teduh.”
23.
Senja kehidupan mengantarku ke alam kasih, alam cinta sejati,
Kegelapan pun menyelimuti pikiran dan raga.
Kegelapan Kasih, hitam manisnya cinta,
jelas bukan kegelapan biasa, Bukalah jendela dirimu,
lihat betapa indahnya senja, Biarlah larut dirimu, dalam warna jingga cinta.
Sungguh manis kesadaran ilahi
yang muncul dari hati yang mencintai.
Amati gelombang rasa yang memasang,
Amati betapa indahnya hidup ini sekarang,
Dengarkan suara genta dan pujian.
Kata Kabir, “Di dalain dirimu juga, temukan Tuhan!”
24.
Hatiku senantiasa bersukacita dalam Kasih
yang telah mengantarkanku pada Kehidupan Abadi;
Kasih yang mengajarkanku hidup
seperti teratai di dalam kolam dunia,
tumbuh dari  air,  tapi  tidak menetap di dalamnya,
Kasih yang siap mengorbankan jiwa dan raga,
demi kasih itu sendiri, demi cinta,
Tanpa Kasih Sejati,
Samudra Kehidupan sungguh sulit dilewati.
Kabir berkata; “Dengarkan kalian yang berjiwa tenang,
hanya segelintir saja yang berhasil menyeberanginya.”
25.
Ia menyembunyikan Diri-Nya,
Kemudian keluar sendiri dari persembunyian-Nya;
Sekarang Ia bersamaku,
Dan sirnalah segala kelemahanku,
Ia menyebabkan suka dan duka,
Ia pula yang menyembuhkan setiap luka.
Bagi-Mu, jiwa dan ragaku,
Segala ‘kan kutinggalkan kecuali Diri Mu!
26.
Berasal dari-Nya segala-gala,
Itulah Om, Sabda segala Sabda;
Melampaui wujud, sifat dan nama,
la berkenan menjadikan Kasih sebagai wujud-Nya,
Carilah Dia,
biarlah dirimu larut di dalam-Nya.
Ia yang sungguhnya Tak Berwujud,
menjelma menjadi sekian banyak Wujud.
Namun Ia tetap Tak Tercemar,
Tak Berakhir, karena sesungguhnya Tak
BerawaL
Sekian banyak wujud yang dimiliki-Nya
sungguh tak terjelaskan lewat kata,
Senantiasa la menari.
Getar-Nya menyentuh setiap jiwa dan raga
Maka, lenyaplah segala derita dengan sentuhan-Nya;
giranglah diriku karena tersentuh oleh-Nya.
Sekarang Dia berada dalam setiap lapis kesadaranku,
dalam kebahagiaanku,  juga dalam kesedihanku,
Ia Yang Tak Berawal, Tak Berakhir, Abadi,
meliputi segalanya dalam Kebahagiaan Sejati.
27.
Berkat Guruku,
telah kukenali Dia Yang Tak Dapat Dikenali
Berkat Guruku,
aku berjalan tanpa kaki,
melihat tanpa mata,
mendengar tanpa telinga.
Aku diajari-Nya
Minum tanpa mulut biasa.
Aku diajak-Nya terbang jauh
walau sayapku tak ututu
Sekarang di Negeri Cinta aku bersemayam,
Di mana tak ada lagi bulan,
bintang, siang, dan malairu
Setelah mencicipi manisnya Kasih Ilahi,
Aku tak membutuhkan sesuatu apa lagi.
Berkat Guru,
Lenyaplah rasa haus dan laparku.
“Kebesaran Guru,” kata Kabir, “melebihi
segala-galanya. Sungguh beruntung murid yang menemukan-
Nya.”
28.
Di hadapan Ia Yang Sudah Bebas,
Ia yang masih terbelenggu menari dan menyanyikan sebuah lagu:
“Sesungguhnya Kau dan Aku, Aku dan Kau sama, Satu!”
Sang Guru mendatangi murid-Nya, dan bertekuk lutut di hadapannya.
Sungguh luar biasa, Menakjubkan tanpa kata!
29.
Gorakhnath bertanya,
“Katakan Kabir, sejak kapan kau memulai
perjalananmu?
Dari manakah cinta di dalam dirimu?”
Kabir menjawab:
“Sebelum Ia memulai permainan-Nya;
saat Ia masih Sendiri dalam keheningan-Nya;
sebelum adanya Guru untuk menuntun,
dan murid untuk dituntun;
sejak saat itu,
aku sudah menjadi pengembara.
Seluruh kesadaranku
Terpusatkan pada Allah.
Sebelum Ia berperan sebagai Pencipta,
Pemelihara dan Pemusnah,
aku sudah menyelami Yoga,
dan menyatu dengan-Nya.
Kali ini aku menjelma dengan penuh kesadaran,
dengan bantuan Guru, kulanjutkan perjalanan,
Dengan mudah,
kucapai la Yang Maha Mudah,
maka muncullah Lagu Cinta
yang terdengar olehmu, Gorakh.
Ikuti Lagu-Nya,
dan kau akan mencapai-Nya pula
30.
Seekor burung bersarang di  atas  pohon
kehidupan,
Ia menyanyi dan menari kegirangan,
Namun, tak seorang pun dapat melihatnya,
Tak seorang pun memahami arti nyanyiannya.
Setiap malam ia datang,
pagi buta sudah meninggalkan pohon tempat
ia bersarang,
Pohon Kehidupan,
Adakah orang yang tahu,
tentang burung yang tinggal di dalam sanubariku?
Tak berwarna,
tidak pula tanpa warna.
Bersangkar di atas dahan kasih,
ia tak berwujud,
Hidup dalam keabadian,
tak seorang pun tahu kapan ia datang dan
kapan pergi.
“Sungguh misterius burung itu,” kata Kabir
“Di mana adanya dia?
Hanya para bijak yang dapat menemukan
sangkarnya.”
31.
Sepanjang hari aku merintih karena rindu,
Malam pun tak dapat tidur karena mengingat-
Apalagi setelah kulihat langit terbelah,
Dan kusaksikan Gerbang Rumah-Mu terbuka.
Ayah, aku sudah tidak betah lagi di rumahmu,
biarlah aku pergi untuk bertemu dengan Kasihku.
Untuk  mempersembahkan  kepada-Nya,
diriku,untuk mempersembahkan jiwa dan ragaku,
32.
Bersukacitalah hatiku, menarilah,
Irama Cinta telah metnenuhi semesta,
Mabuk kepayang karena cinta,
Keberadaan pun tengah menari ria.
Bukit-bukit tinggi, lautan dan daratan,
semuanya menari, semuanya girang.
Kadang meneteskan air mata,
kadang ketawa lepas,
lihat, manusia pun sedang menari bebas.
Untuk apa mengenakan jubah petapa,
dan melarikan diri dari dunia?
Lihat, hatiku senantiasa menari, bersukacita
dan merayakan setiap karya Sang Pencipta,
Ternyata, Ia pun ikut bahagia!
33.
Hati yang mabuk karena cinta
sudah tidak berurusan dengan kata-kata.
Aku menyimpan permata di balik jubahku,
Selesai sudah pencarianku.
Sang Angsa telah menemukan
kolam kehidupan di balik perbukitan,
Ia tidak lagi membutuhkan
kali dan air dalam selokan.
Tuhanmu berada di dalam dirinau,
apa yang kau cari di luar sana?
“Dengarkan sobatku,
aku menemukan-Nya di dalam diri,” demikian Kabir berkata.
34.
Dapatkah bunga teratai berpisah dari kolam?
Dapatkah burung Chakor berhenti menatap bulan ?
Aku hanyalah seorang pelayan,
Kau Sang Juragan.
Hubungan itu sungguh tak terputuskan.
Sejak awal penciptaan dan berakhirnya pertunjukan,
aku selalu mencintai-Mu, O Tuhan.
Hubungan kita sungguh tak terputuskan.
Api cinta itu tak terpadamkan,
“Seperti sungai yang mengalir menuju laut,”
Kabir berkata,”hatiku pun senantiasa tertuju kepada-Nya,”
35.
Kuinginkan Kau dengan segenap raga dan jiwaku;
Datanglah Kasih, datanglah ke rumahku.
Aku malu sendiri bila disebut pengantu-Mu,
karena hatiku belum bersentuhan dengan Hati-Mu,
Ya, hatiku memang belum menyentuh Hati-Mu;
tapi, itu tidak mengurangi cintaku kepada-Mu.
Siang-malam,  dalam rumah  dan  di  luar rumahku,
Yang kurindukan hanyalah Kamu, Kamu, Kamu,.,
Hilang rasa hausku, lapar dan tidurku,
Yang kuinginkan hanyalah Kamu,  Kamu,Kamu,,..
Sungguh berharga secawan air bagi yang haus,
Kau, Kasih, jauh lebih berharga daripada itu!
Sungguh, aku bisa mati karena rindu,
adakah yang dapat menyampaikan berita ini kepada-Mu?
36.
Bangkitlah sobatku, janganlah kau tertidur terus.
sudah berlalu;
akankah kau membiarkan siang pun berlalu?
Mereka yang sepanjang malam berjaga,
memperoleh harta karun, permata, dan mutiara.
Kau kehilangan segalanya, Kasihmu datang,
kau tak menyapa-Nya. Ranjangmu tak kau benahi untuk Dia.
Hidupmu sungguh sia-sia. Bangkit, lihat
Kasihmu tidak berada di sampingmu.
“Hanyalah hati yang tertusuk panah cinta,”
“berjaga sepanjang malam,” demikian Kabir berkata.
37.
Malam harus menyingkir bila matahari sudah terbit;
Ketidaksadaran harus minggir bila kesadaran bangkit.
Malam datang karena terbenam matahari,
Ketaksadaran meraja karena sirna kesadaran diri
Nafsu berahi mengusir pergi cinta;
Karena itu perangi terus nafsu rendahmu,
sepanjang usia.
Dialah musuh utama,
yang harus kau penggal kepalanya.
Setelah bebas dari nafsu,
datanglah menghadap Sang Raja,
dan tundukkan kepalamu.
Perang melawan nafsu sungguh membutuhkan nyali,
perang itu hanya bagi para pemberani.
Para pengecut tak lama bertahan,
medan perang pun mereka tinggalkan.
Perang melawan nafsu rendahan;
perang melawan amarah dan kesombongan;
perang melawan keserakahan,
Dirimu ibarat medan perang.
Tapi, kerajaanmu adalah Kerajaan Kebenaran;
Kerajaan Kepuasan Diri dan Kesucian;
Gunakan Pedang Kesadaran Ilahi
untuk mempertahankan apa yang kau miliki.
Kabir berkata, “Hanya seorang pemberani
yang siap melawan ketaksadaran diri
Para pengecut selalu meninggalkan medan perang,
Mereka tidak memiliki nyali untuk berlaga.
Perang yang berkecamuk di dalam diri,
memang bukanlah perang biasa,
Hanya para pemberani bernyali,
yang tak pernah putus asa.
Namun, ia pun akan berhenti,
bila perang dianggapnya usai.
Janganlah kau berhenti,
wahai Pencari Sejati;
karena perang di dalam diri,
sungguh tak pernah berhenti.
perang melawan nafsu, Berjalan terus sepanjang hidup,”
38.
Pintu hatimu terkunci karena kekhilafanmu,
karena kesalahanimu
Gunakan Kunci Cinta untuk membukanya;
dan, Kasihmu akan terjaga.
“Janganlah kesempatan ini terlewatkan,”
kata Kabir, “biarlah Kasih terbangunkan.”
39.
Badan ini ibarat alat musik, kawan.
Dan, Dialah Pemain Tunggal setiap alat.
Harus kembali menjadi debu alat ini,
Bila sudah tidak berguna, rusak berat,
“Dialah Pemain Tunggal,” Kabir bersaksi,
“Dialah Pemain Tunggal,”
40.
mengembara, dan mengelilingi dunia?
Keterikatan memang ada di dalam diri,
tapi, bila ia berkenan,
kebebasan pun kuperoleh dari diri.
Sungguh kusayangi dia,
yang dapat menyelami diri dan rnenemukan-Nya.
ia hanyut dalam Lautan Kesadaran Ilahi;
ia menemukan ketakterikatan
dan kasih di dalam diri.
Kabir mengingatkan, “Segalanya ada di dalam diri;
Itulah kebenaran sejati
Hanyalah dirimu yang dapat membantumu
mencapai Maha Benar, Tuhanmu.
Pertahankan keberadaanmu di dalam diri;
janganlah engkau ke mana-mana pergi,
Pada suatu hari keinginanmu pasti terpenuhi,
dan menemukan apa yang kau cari,”
41.
Tak ada kata lain yang terucap oleh mulutku,
kecuali Nama-Nya.
Tak ada suara lain yang terdengar oleh telingaku,
Kecuali Suara-Nya.
Dan, Kabir berkata: “Jiwaku girang,
karena terungkap sudah apa yang tersembunyi selama ini.
Melampaui penderitaan dan kenikmatan,
luar biasa kebahagiaan yang kualami saat ini.”
42
Hanya kata-kata
yang kutemukan dalam kitab-kitab suci.
Sekarang, terangkat sudah tirai yang memisahkan diriku dari Dia.
Kabir berbicara dari pengalamannya,
segala yang lain hanya kata-kata belaka.
43
Sungguh sangat lucu
bila ikan di kolam merasa haus.
Kau tak mampu melihat Kebenaran di dalam diri,
dan mencarinya di sana-sini.
Di sinilah Kebenaran,
dengarkan—inilah Kebenaran:
Silakan mengunjungi tempat-tempat suci,
tapi temukan pula kesucian di dalam diri,
Tanpa itu, apa yang kau lakukan tak membantu.
44
Di tengah langit sana, di atas kuil-Nya,
sebuah Petaka Rahasia berkibar,
tak terlihat oleh mata.
Bintang-bintang cemerlang menghiasi atap-Nya.
Matahari dan bulan senantiasa meneranginya.
Masih gelisahkah hatimu, Setelah menyaksikan semua itu?
“Ia yang telah mencicipi manisnya pengalaman rohani, dianggap gila oleh dunia,” demikian Kabir berkata.
45
Siapakah kau?
Berasal dari mana dirimu?
Di mana Penciptamu?
Bagaimana Ia berhubungan denganmu?
Siapa yang menyimpan api dalam setiap lempengan kayu?
Siapa pula yang membakar dan mengubah segalanya menjadi debu?
Jawaban yang tepat tak pernah kau dapat,
demikian yang kudengar dari Guruku.
“Setiap jawaban yang kau peroleh,” kata Kabir,
“hanyalah sesuai dengan kesadaranmu.”
46
Wahai Jiwa Tenang, bersihkan dirimu,
jernihkan pandanganmu.
Dalam setiap buah terdapat biji;
dan tersembunyi buah dalam setiap biji.
Dalam badan terdapat benih,
dan tersembunyi badan dalam setiap benih
Api, air, tanah, dan ruang,
semuanya ada karena Dia, di dalam Dia,
Wahai ulama, pendeta, renungkan sejenak,
adakah sesuatu di luar-Nya?
Sebuah kendi berisi air, berada diatas air,
di dalamnya air, dan di luarnya air.
Janganlah kau memberi nama,
kau akan melahirkan dualitas belaka,
Kabir berkata, “Dengarkan Firman-Nya,
dengarkan apa kata Yang Maha Benar:
Kebenaran itulah Hakikat Diri-Mu.
Sungguh ajaib:
Berasal dari-Nya,
Dia yang menyampaikan-Nya,
Dia pula yang mendengar-Nya.
Firman itu pun sesungguhnya Dia.
Berasal dari-Nya segala-gala,
Dan, Dialah segala-galanya.”
47
Sungguh ajaib
Pohon Kehidupan yang kulihat,
Tumbuh besar, walau tak berakar.
Tanpa daun sehelai pun,
ia berbunga, berbuah,
Dua ekor burung,
mursyid dan murid berada di atasnya,
Sang murid mencicipi setiap buah
dan menikmatinya.
Sang mursyid menjadi saksi
dan menikmati apa yang dilihatnya.
Sungguh sulit dipahami,
keadaan sang mursyid.
Kabir berkata:
“Ia sudah melampaui nama dan rupa,
namun tetap berada di tengah rupa,
Sebab itu, aku memuliakan
setiap nama dan setiap rupa”
48
Telah berhasil kutenangkan pikiranku,
sudah tercerahkan pula hatiku;
aku telah melihat Dia yang Melampaui Penglihatan.
Dalam diri para prajurit, telah kulihat sosok Pangeran.
Terlepaskan sudah belenggu kepicikan
sekarang aku bebas, merdeka, bukan lagi tahanan.
Kabir berkata; “Aku telah menemukan Dia yang berada di atas segala penemuan.
Ia pun telah mewarnai jiwaku, dengan warna-Nya!”
49
Apa yang terlihat,
sesungguhnya tak ada,
Yang Ada tak dapat
kau jelaskan dengan kata.
Kau tak akan percaya,
bila tidak melihat-Nya.
Kau tak akan menerima,
bila ada yang menjelaskan-Nya,
Namun demikian,
satu kata pun cukup bagi mereka yang sadar.
Dan, seribu kata tak cukup bagi mereka yang tak sadar.
Ada yang bertafakur pada Yang Tak Berwujud,
Ada yang bersujud pada Yang Berwujud,
Mereka yang sadar tahu benar,
sesungguhnya Ia melampaui dua-duanya.
Keindahan-Nya tak terlihat oleh mata.
Suara-Nya tak terdengar oleh telinga.
Kabir berkata: Ia yang telah menemukan Cinta,
sekaligus ketakterikatan,
telah melampaui kematian,”
50
Suara seruling-Nya terdengar terus tanpa henti,
sungguh indah suara-Nya, Suara Kasih!
Bila segala batas tertembus oleh Cinta,
Kebenaran pun tercapai dengan mudah.
Tersebar luas pula wanginya,
Hingga batas yang tak terhingga
tak ada yang dapat menghalangi-Nya.
Tak ada yang dapat menghentikan-Nya.
Kilauan Wujud-Nya melebihi
cahaya jutaan matahari,
Alat Vina di tangan-Nya pun
tak tertandingi oleh alat lain sejenis.
Karena suara yang keluar bukanlah suara biasa,
tapi suara Kebenaran hakiki
51
Kawan, aku sudah tak mampu menahan diri,
aku harus bertemu dengan Ia yang kukasihi.
Masa muda malah menjadi beban; karena rindu,
hati sakit tak keruan, Memang aku masih bekeliaran di gang-gang sempit pengetahuan.
Aku sadar,
Ia tak dapat ditemukan lewat pengetahuan.
Namun, kesadaran itu pun kuperoleh dari pengetahuan.
Dan, dalam kesadaran itu,
kuterima sepucuk surat dari-Nya.
Isinya terbaca,
tapi tak terucap, tak dapat kujelaskannya.
Yang jelas,
sejak kubaca surat-Nya,
aku sudah tidak lagi takut mati.
Kabir bersaksi:
“Kawan, telah kuperoleh sebagai hadiah,
Dia Yang Tak Pernah Mati!”
52
Hatiku merintih, menderita,
bila Kasihku tidak bersamaku.
Sepanjang hari gelisah,
dan bila malam tiba
aku tak dapat tidur karena rindu,
Tak seorang pun dapat memahami
keadaanku, dukaku.
Di tengah malam yang gelap,
rasa takut menyelimuti jiwaku
karena Kasihku tidak berada di sampingku.
Kabir bersaksi; “Memang tak ada kebahagiaan tanpa Dia.”
53
Suara seruling siapa yang dapat membahagiakan jiwaku?
Pelita dapat menyala,
sekalipun tanpa sumbu.
Teratai pun dapat mekar,
sekalipun tak berakar.
Bunga-bunga di kebun raya
tumbuh bersama walau tak terpelihara.
Seekor burung berkicau
karena cintanya bagi bulan.
Satu lagi berkicau
menyambut datangnya musim hujan,
Tapi, apa maksud hidup seorang Pencinta?
Untuk apa ia harus meneruskan hidupnya di dunia?
Apakah kau tidak mendengar suara Harpa Kebahagiaan Hakiki yang berasal dari dalam dirimu sendiri?
ntuk apa mencari sumber suara itu di luar diri?
Carilah di dalam diri sendiri!
Untuk apa pula sibuk membersihkan diri,
bila manisnya Cinta Yang Satu itu tak pernah kau cicipi.
Para ulama sibuk mendalami kitab dan berdakwah;
semuanya sia-sia bila hatinya belum kenal cinta.
Para yogi pun percuma mewarnai jubahnya,
bila hatinya belum diwarnai cinta.
Kabir berkata: “Berada di tempat ibadah atau di teras rumah seorang wanita hina,
dalam tahanan di penjara atau di tengah kebun penuh bunga,
aku tak pemah berpisah dari Kasihku, Ia senantiasa bersamaku.”
55
Sungguh ajaib jalan yang ditempuh para pencinta;
tak ada tuntutan namun tidak tanpa tuntutan pula
Demi cinta mereka mengorbankan segala,
Dan pengorbanan itu membahagiakan mereka.
Persis seperti ikan-ikan di dalam kolam,
tidak takut dengan kedalaman kolam;
Para peacinta pun tak takut mengorbankan kepala
demi Ia yang dicintainya.
Inilah Rahasia Cinta,
demikian Kabir berkata.
56
Berkat bantuannya,
bila kau mampu melihat Wujud Ia Yang Tak Berwujud;
ketahuilah, bahwa kau telah bertemu dengan seorang Guru,
Jalan yang ditunjukkannya pun lurus,
mudah gampang ditempuh,
Tak ada ritual berbelit
pun keharusan-keharusan yang sulit.
Kau tak perlu menutup diri
menahan napas dan menyendiri.
Yang Maha Tinggi,
dapat kau temukan dalam hidup sehari-hari
Di tengah keramaian,
kau akan menemukan keheningan.
Bebas dari takut dan kegelisahan,
kau akan selalu berenang dalam kolam kebahagiaan,
Sembari menikmati dunia,
kau tetap bersama Allah.
Ia Yang Melampaui segalanya,
Maha Ada—berada di mana-mana,
Di bumi dan di langit jauh sana,
dalam air dan di udara.
Seorang Pencari menemukan-Nya di dalam dan di luar diri.
Kukuh dan teguh dalam keyakinannya,
ketiadaan pun telah terlampaui olehnya.
57
Kenali Sabda, yang mengawali semesta.
Sabda itu telah mewujud, menjadi Guru.
Aku mengenali-Nya, dan menjadi murid-Nya.
Adakah di antara kita yang tidak sekadar mendengar,
tapi memahami arti Sabda itu?
Temanku yang berhati tenang, pahami dan lakoni makna-Nya dalam hidupmu.
Kitab Suci mengagungkan-Nya;
semesta berada karena-Nya;
para suci pun berbicara tentang-Nya;
tapi, tak seorang pun memahami rahasia-Nya*
Setelah mendengar-Nya,
mereka yang berkeluarga meninggalkan rumah,
mengasingkan diri dan menjadi petapa;
sebaliknya para petapa,
kembali ke dunia, untuk melakoni dan menyebar cinta.
Kasunyataan Abadi, Inti segala macam falsafah;
ketakterikatan dengan wujud dapat mengantarmu kepada-Nya.
Kemudian dari Sabda yang sama pula,
muncul wujud-wujud yang tak terhingga jumlahnya,
Segala sesuatu berasal dari-Nya,
Ia sendiri berasal dari mana, dari siapa
tak seorang pun mengetahuinya,
demikian Kabir berkata.
58
Habiskan isi cawanmu, biarlah dirimu mabuk,
mabuk akan Cinta Ilahi, mabuk akan Asma Allah,
“Wahai sobat yang berhati tenang, ketahuilah, Kabir sudah mabuk kepayang.
Dari telapak kaki hingga ujung kepala, dirinya teracuni sudah.”
59
Apa yang kau sombongkan, manusia,
bila kau tidak mengenal Allah?
Lepaskan keangkuhanmu,
sekadar kata-kata tak akan mempertemukanmu dengan-Nya,
Dengan menguasai isi kitab suci,
janganlah kau menipu diri,
Cinta melampaui kata-kata,
dan berada di atas segala-gala.
Bila kau mencari tanpa keangkuhan,
kau pasti temukan.
60
Setelah mengenal hidup abadi,
Dan bebas dari kematian,
aku terbebaskan pula
dari segala macam keinginan,
Aku sudah sadar sekarang,
keinginan itulah penyebab segala kegelisahan.
61.
Berada di tepi sungai yang membahagiakan,
jangan engkau berbalik langkah
tanpa melepaskan dahaga.
Ingat, maut dapat menjemputmu kapan saja.
Air sungai itu sungguh suci, bersih,
apa lagi yang kau cari?
Mereka yang telah mencicipinya,
menjadi mabuk karena Kasih-Nya.
Kabir berkata, “Ingat kata-kataku,
bebaskan dirimu dari rasa takut dan ragu;
kesempatan melihat dunia sejernih ini
mungkin tak terulangi.
Selama ini kau hidup dalam kepalsuan,
ucapanmu penuh tipuan,
pikiranmu penuh keinginan.
Bebaskan dirimu dari segala yang membebani,
hiduplah dalam Kebenaran, Ketakterikatan, dan Kasih Sejati.”
62.
Dengan membakar diri
bersama suaminya yang mati,
seorang istri
merasa menemukan Kehidupan Abadi.
Dari mana dia tahu?
Siapa yang memberitahunya hal itu?
Adakah yang memaksanya?
Adakah yang mengajar-Nya?
Bebas dari keterikatan,
Kasih menemukan Kebahagiaan.
Adakah yang memaksanya?
Adakah yang mengajarnya?
63.
Burung-burung di langit, hewan di darat,
dan cacing di bawah tanah pun dijaga-Nya,
Lalu, apa yang kau khawatirkan hatiku?
Apakah Ia tak akan menjagamu?
Siapa yang memberimu makan
ketika kau masih berada dalam kandungan?
Apakah Ia akan meninggalkanmu begitu saja
setelah kelahiranmu?
Adakah sesuatu yang melebihi senyuman-Nya,
sehingga kau mencari kebahagiaan di luar sana ?
Demi cinta palsu, Kasih Sejati kau tinggalkan.
Sungguh sia-sialah apa yang kau lakukan.
64.
Derita apa, duka apa yang harus kupikul
demi cintaku kepada-Mu, O Tuhanku?
Apakah seperti burung pencinta air hujan,
rela mati kehausan, tapi tetap menolak air
lain?
Apakah seperti rusa pencinta musik,
rela ditangkap, demi cintanya pada musik?
Apakah seperti wanita yang membakar diri
bersama jasad suaminya yang sudah mati?
Bebaskan dirimu dari rasa takut, Hatiku,
demi cintamu kepada Kekasihmu.
65.
Saudaraku,
aku pun pernah tersesat;
kemudian aku bertemu dengan Sang Guru,
dan la menunjukkan jalan kepadaku.
Sejak itu, kulepaskan segala ritus.
Tak ada lagi mandi di sungai suci.
Mereka mengejekku,
Aku dianggap tidak waras.
Mungkin mereka benar;
selain diriku, yang lain semua waras.
Ternyata, ketidakwarasanku telah
mengganggu kewarasan mereka,
Maka, aku berhenti bersujud bersama mereka,
Kuhentikan pula ritus membunyikan genta
di tempat ibadah.
Aku tidak lagi menempatkan Dia
di atas takhta dalam sebuah kuil tertutup.
Persembahan bunga pun tidak lagi kulakukan
Aku baru sadar sekarang;
dengan menyiksa tubuh, aku tidak membahagiakan-Nya,
dengan menahan nafsu pun aku tak menemukan-Nya,
la yang penuh kasih dan bijak,
ia yang tetap waras di tengah keedanan dunia,
ia yang mencintai semesta sebagaimana ia
cinta dirinya,
hanyalah ia yang kemudian menyadari
Kehadiran Allah di mana-mana.
Kabir bersaksi, “Kehadiran Kasih hanya
disadari bila ‘aku’ dan ‘rasa iri’ terlampaui sudah.”
66.
Untuk apa mewarnai jubahmu, Yogi?
Warnai dirimu dengan Kasih.
Kau lupa akan Kehadiran Allah di dalam diri dan malah sibuk memuja berhala di luar sana,
Dengan Wemelihara janggut, mengenakan anting.
dan membiarkan rambutmu metnanjang
kau hanya berhasil mengubah penampilanmu,
sekarang kau persis seperti seekor kambing.
Dengan menahan nafsu secara paksa,
dan meninggalkan keluarga,
kau hanya bertindak seperti seorang
impoten yang telah kehilangan kejantanannya,
Ada pula yang menggunduli kepalanya
dan sibuk mengoceh sepanjang hari,
tak satu pun tindakan itu yang membantu.
Lihat, lihat, kaki dan tanganmu tetap saja
terbelenggu
dan, tanpa daya kau menuju maut.
67.
Ada yang berteriak memanggil nama-Nya,
seolah la tuli!
Tidak, la tidak tuli,
Bila seekor semut pun menari,
suara langkahnya terdengar oleh Dia.
Apa guna mewarnai dahi;
apa guna bertasbih sepanjang hari;
apa guna memelihara rambut,
bila hatimu masih penuh racun?
68.
Mendengar suara seruling-Nya,
aku tak dapat menahan diri lagi.
Mendengar suara-Nya,
bunga-bunga di taman pun mekar sebelum waktu,
Dan, lebah-lebah pun berdatangan memenuhi undangan mereka.
Suara geledek dan petir menggairahkan hatiku;
bersama turunnya hujan, aku pun merindukan Kasihku.
Melampaui awal dan akhir semesta
dengan seluruh isinya,
hatiku telah menemukan rumah-Nya.
Panji-Panji di atas rumahNya terlihat jelas sudah.
Kabir berkata; “Dalam kematian, Telah kutemukan hidup abadi,”
69.
Bila la hanya berada di dalam tempat ibadah,
siapa yang ada di luar sana?
Bila la hanya dapat ditemukan di tempat-tempat suci,
siapa yang ada di luar sini?
Ia berada di Timur dan di Barat
Temukan Dia di dalam dirimu, karena la pun berada di sana.
Keberadaan hanyalah bukti nyata akan Kehadiran-Nya,
Bagi Kabir, Allah dan Ram sama; Ialah Guruku, Ialah Mursyidku.
70.
ia yang lembut, sopan dan puas dengan apa
adanya,
ia yang berpandangan luas dan tidak pilih
kasih,
ia yang tenang dan menerima dengan tulus,
ia yang telah melihat-Nya dan menyentuh-
Nya,
ia bebas dari rasa takut dan khawatir.
ia yang senantiasa mengingat nama-Nya,
merasa bahagia semata-mata karena-Nya.
i yang berkarya dalam keheningan,
seolah menari diiringi irama-Nya.
ia tak pernah berhenti menyebarkan Kasih,
Seru Kabir, “Bersujudlah kepada-Nya,
karena Dialah pewujudan Kasih di atas muka
bumi;
tak terkotak jiwa-Nya, tenang,
ceria dan senantiasa berbagi keceriaan.
Dialah wujud Kasih yang nyata.”
71.
Bergabunglah dengan para pencinta,
karena Allah senantiasa bersama mereka.
Terimalah segala kebijakan dan kasih dari mereka,
karena hanya pemberian merekalah yang berharga,
Tinggalkan majelis di mana nama-Nya tak terucap!
Apa arti pesta perkawinan tanpa kehadiran
Sang Pengantin?
Jangan bimbang, jangan ragu
bila sudah bertemu dengan Kasihmu.
Untuk apa mencari tuhan-tuhan lain,
untuk apa mengejar guru-guru lain?
“Bila kau tak segera menghentikan pencarian
dan pengejaranmu,” kata Kabir, “kau tak akan
pernah bertemu dengan Sang Kekasih.”
72.
Sebutir permata jatuh ke dalam lumpur,
kemudian setiap orang mencarinya,
Ada yang mencarinya di timur,
ada yang mencarinya di barat.
Ada yang mencarinya dalam air,
ada yang mencarinya di antara bebatuan
Hanya Kabir, si goblok
yang memahami arti dan harga permata itu,
maka ia tak membiarkannya jatuh ke dalam lumpur.
Ia membungkusnya dengan rapi, dan menyimpannya dalam hati
73.
Saat tandu datang untuk menjemputku,
aku merasa bahagia, gembira,
sesaat lagi aku akan bertemu dengan Kasih-
Ku.
Tapi, dalam perjalanan menuju rumah-Nya,
Di tengah hutan belukar, tanpa seorang pun
teman,
aku merasa takut,
aku minta diantar pulang saja,
supaya  dapat bergabung  kembali dengan
sanak-keluarga.
Aku belum sempat pamit dengan mereka.
Kabir mengingatkan: “Tawar-menawar yang
kau lakukan sungguh sangat memalukan.
Bebaskan dirimu dari pikiran
tentang untung-rugi, baik-buruk
Negeri yang kau tuju tak mengenal lagi segala perhitungan semacam itu,”
74.
Hatiku sayang,
rahasia Kota Cinta itu belum kau ketahui,
maka kau datang dan pergi dengan tangan
kosong, tanpa pengalaman berarti.
Sobatku sayang,
sungguh sia-sia hidupmu selama ini.
Kau hanya membebani j iwa,
adakah yang dapat meringankan bebanmu?
Kasihmu berada di seberang sana,
adakah keinginan di dalam dirimu
untuk bergabung dengan-Nya?
Perahumu bocor,
dan kau duduk di tepi sungai kehidupan,
berpangku tangan….
Kau mengalah tanpa alasan.
“Ingat,” kata Kabir, “tak seorang pun dapat
membantumu.
Kau harus membantu diri sendiri.
Penderitaanmu pun karena ulahmu sendiri!
75.
Ia Tak Terwujud dan melampaui wujud,
atau berada di balik setiap wujud,
untuk apa kau persoalkan?
Lihatlah di balik wujudmu sendiri,
melampaui pengalaman-pengalaman suka dan duka yang silih berganti,
temukan Cahaya Ilahi yang menerangi jiwamu siang dan malam,
tanpa henti
Cahaya itulah Wujud-Nya;
Cahaya itulah Tempat Ia Berkarya;
dan, Cahaya itulah Tempat Ia Berisitirahat.
Kabir berkata: “Cahaya itu pula yang kutemu kan
dalam diri Sang Guru Sejati
yang telah menaklukkan diri-Nya.”
76.
Bukalah mata hatimu;
dengan pandangan penuh cinta,
kau dapat melihat Dia yang meliputi semesta,
dengan sangat mudah.
Temukan seorang Guru yang telah
terbuka hatinya,
yang telah melihat wajah-Nya*
Dan, dengan mudah
hatimu pun akan terbuka.
Biarlah ia mengajarmu rahasia cinta,
cinta tak terbatas, melampaui keterikatan,
Maka kau pun akan melihat Dia
Yang melampaui segala batas,
dan meliputi alam semesta.
Dunia ini pun Wujud Kebenaran-Nya;
melihat sekian banyak jalan dan gang
di dalam dunia, hatiku terpesona.,,,
Sungguh ajaib, jalan-jalan itu tak
mengantar ke mana-mana;
tujuan hidup pun tercapai tanpa
melintasi satu pun jalan,
Dalam keceriaan hatimu,
Kebahagiaan Abadi dapat kau gapai dengan
mudah
Semuanya ada di sini,
tak perlu ke mana-mana untuk mencari.
Tak ada pula yang perlu kau lepaskan,
apa yang mengikatmu sehingga perlu kau
lepaskan?
Kasih-Nya memancar ke setiap penjuru.
Dan, dari Pancaran Kebenaran itulah
muncul wujud-wujud yang berbeda.
Bunga-bunga di taman mekar karena ter-
sentuh oleh-Nya;
kawanan angsa di kolam menari ceria karena
Kasih-Nya pula.
Suara merdu musik dari alat-alat yang tak
terlihat merayakan Kehadiran Dia yang Tak Bersandar,
di atas Singgasana Semesta.
Cahaya jutaan matahari tak mampu
menandingi kilauan cahaya sehelai rambutNya,
Mengiringi Pancuran Abadi Kelahiran dan
Kematian,
para penyanyi di istana-Nya membawakan lagu-lagu
yang mampu mengoyak hati setiap pendengar-nya.
Segala kebenaran berada di dalam Ia yang Maha Benar Ada-Nya,
namun Ia tetaplah Kasunyatan Abadi. Ciptaan berawal dari-Nya,
berakhir pula di dalam-Nya.
Dengan berfilsafat kau tak mampu menying-kap tabir-Nya.
Ia berada di luar jangkauan filsafat.
Apa yang dapat kau katakan tentang Dia yang melampaui rupa dan nama.
Bagaimana pula memahami ciptaan-Nya yang tak pernah berakhir.
Untuk mengetahui-Nya, kau harus berada di alam-Nya.
Ia tidak seperti apa yang dikatakan,
tidak seperti apa yang kau dengar selama ini.
Ia tak berwujud, tak berbadan, Tak terukur tinggi dan lebar-Nya.
Penjelasan apa pula yang dapat kuberikan?
Bila Ia menghendaki, kau pun dapat berjalan
menuju-Nya.
Kemudian dalam sekejap, kau terbebaskan dari
kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan.
Kabir berkata, “Ia tak terjelaskan lewat kata yang
terucap ataupun yang tertulis*
Seperti seorang bisu, aku telah mencicipi Manis-Nya,
tapi bagaimana menjelaskan kepadamu betapa Manis-Nya Dia!”
77.
Hatiku sayang,
lupakah engkau akan Sang Kekasih,
Sang Pengikat Hati,
Ia, yang mengikat tanpa tali?
Apa yang kau tunggui lagi ?
Berangkatlah segera ke negeri-Nya
di mana awan gelap ketaksadaran tidak lagi menutupi langit kesadaran;
di mana hujan berkah senantiasa mengguyuri jiwa manusia.
Tanggalkan kesadaran jasmani bermandilah dalam kesadaran rohani di bawah guyuran Kasih,
Tempat di mana Ia bersemayam
senantiasa bercahaya dengan cahaya lembut rembulan.
Kau masih bicara tentang satu matahari,
di sana jutaan matahari terbit bersama untuk menerangi negeri-Nya,
78.
Demi kebaikanmu sendiri, sobatku,
dengarkan kata-kataku dengan baik:
“Kau telah memisahkan dirimu dari
Ia yang adalah asal-usulmu.
Kau telah menggadaikan Kehidupan Abadi
deini kelahiran dan kematian yang tak berartL
Dengarkan berita baik ini
demi kebaikanmu sendiri:
Segala sesuatu berasal dari Dia,
termasuk ajaran yang kau anut.
Apa yang kau khawatirkan,
Apa lagi yang kau takuti?
Ia yang kau muliakan,
dan nama-Nya kau renungkan dalam hati,
tak berada jauh darimu.
Ia bersemayam dalam sanubari setiap
makhluk.
Bila kau menempatkan-Nya jauh darimu,
kau menjadi pemuja jarak ciptaanmu sendiri*
Bila Ia betul jauh darimu,
kemudian siapa yang menyertaimu selama ini?
Kau pikir Ia jauh darimu,
dan mencari-Nya di tempat jauh.
Kau malah menjauhi Dia
yang bersemayam dalam diri setiap jiwa.
Bila ia sungguh jauh,
Rintihan dan rantapanmu sungguh tak ber-
guna.
Mustahil kau dapat bertemu dengan-Nya.
Sesungguhnya Ia berada dekat denganmu.
Ia bersemayam dalam dirimu sebagai
Kebahagiaan Sejati, Kekal, Abadi.
Ia sungguh tak menghendaki kau menderita
karena berpisah dari-Nya,sebab itu Ia bersemayam di dalam dirimu,
dan meliputimu dari kaki hingga ujung kepala.
Bergembiralah sobatku,
dalam kesadaran akan KehadiranNya.
79.
Aku tidak suci, tapi jiwaku tak tercemar pula. Aku tidak bertindak sesuai hukum yang kau sucikan,
namun aku tak terkendali oleh nafsu berahi pula.
Aku bukanlah seorang pembicara, bukan pula pendengar.
Aku bukanlah seorang budak pengabdi,
bukan pula majikan penguasa.
Aku tidak bebas, tapi tidak terikat pula.
Aku tak memiliki seorang pun sahabat,
tapi tidak pula bermusuhan dengan siapa-siapa.
Sorga dan neraka,
dua-duanya bukan tempat yang sedang kutuju.
Senantiasa aku berkarya,
tapi tidak terikat dengan karyaku.
Hanya segelintir orang yang memahamiku,
kemudian mereka tak goyah lagi dari pemahaman itu.
Kabir tak berniat untuk mendirikan sesuatu yang baru,
Ia juga tak ingin memusnahkan sesuatu yang lama.
80.
Melampaui segala nama,
sungguh Nama-Nya sajalah yang sejati!
Untuk apa berdebat,
apakah Ia berwujud atau tidak
Biji adalah wujud yang tak terlihat,
bunga dan buah adalah wujud yang terlihat.
Pengetahuan tentang-Nya,
bagaikan ranting-ranting sebuah pohon;
Nama-Nya bagaikan akar pohon.
Temukan akarNya,
dan akan kau temukan Sumber Kebahagiaan Abadi.
Dan, bila sudah menemukan Sumber,
dengan mudah kau pun
akan menemukan makna ranting,
daun, bunga dan buah pohon kehidupan.
Menemukan Sumber Kebahagiaan
berarti menemukan la Yang Maha Kuasa.
Dalam Kebahagiaan itu pula,
Yang Berwujud dan Yang Tak Berwujud
akan kau temukan sebagai satu keutuhan
81.
Pada awalnya la sendiri Ada-Nya,
Lengkap, Sempurna, Tak Kekurangan sesuatu;
la tak berwujud, tak berwarna,
tak tergantung pada sesuatu.
Saat itu, masa belum ada;
Tak ada awal, pertengahan, tak ada pula akhir.
Gelap dan terang, dua-duanya belum ada.
Mata yang dapat membedakan gelap dari terang
pun belum tercipta.
Tak ada daratan di bawah,
tak ada pula langit di atas.
Tak ada bumi, api, angin,
tak ada satu pun sungai;
tak ada laut dan tak ada ombak.
Belum ada baik dan buruk,
kitab-kitab suci pun belum berwujud.
“Saat itu,” Kabir merenung,
“tak ada gerakan, tak ada kegiatan.
la yang Maha Tinggi berada dalam
Keheningan Diri-Nya sendiri.”
Demikian pula dengan Sang Guru Sejati,
keinginan untuk makan dan rninum telah
dilampaui-Nya.
Perbedaan rupa, nama, warna,
tak bermakna lagi bagi-Nya.
Bagaimana dapat kujelaskan diri’Nya?
Keberadaan dan ketiadaan, dua-duanya telah
Terlampaui oleh-Nya.
la tak memiliki nama;
la tak berwarna, tapi juga tidak tanpa warna.
Tak bertempat tinggal,
namun la berada di mana-mana.
82.
Kabir termenung dan menyimpulkan:
“la yang tak berwujud, dan
berada di atas segala sifat;
la yang tak butuh sandaran dan
tak bertempat tinggal,
sesungguhnya melipiiti jagat raya.”
Dengan Sabda Awal belaka sebagai bekal-Nya,
dan demi kenikmatan Diri-Nya,
la telah menciptakan jagat ini
sebagai tempat bermain-Nya.
Bumi adalah tempat la bermain,
demikian pula dengan langit.
Matahari dan bulan bagaikan mainan-Nya.
la berada di awal, di pertengahan, dan
di akhir setiap masa.
Terang, gelap, dan mata yang dapat
membedakan keduanya
semua berasal dari-Nya.
lalah Guru Sejati, Sang Suci,
kesucian sungai-sungai suci pun
semata-mata karena-Nya.
Kelahiran dan kematian,  pertemuan dan perpisahan,
semua terjadi atas Kehendak-Nya.
Daratan dan lautan, bumi dan langit,
jagat raya inilah tempat yang dipilih-Nya
sebagai Taman Hiburan.
Untuk menghibur diri,
la mencipta, memelihara, dan mengakhiri segala sesuatu.
“Permainan-Nya terlihat jelas,” kata Kabir,
“tapi Sang Pemain tak terlihat oleh siapa pun jua.”
83.
Diiringi suara harpa yang tak terlihat,
Sang Penari menari ceria, tanpa kaki, tanpa tangan.
Sang Pemain tak menggunakah jari-Nya untuk bermain;
Sang Pendengar tak butuh telinga untuk mendengar.
Sesungguhnya lalah Sang Pemain,
la pula Sang Penari dan Pendengar.
Walau pintU’Nya tertutup rapat,
aroma kasih-Nya tetap tercium di luar.
Pertemuan yang terjadi di balik pintu
memang tak terlihat oleh mata kasat;
namun para bijak memahami apa yang telah terjadi.
84.
Tak terlihat oleh mataku, Sang Pengemis mengemis terus.
Apa yang harus kuminta dari Dia? la memberi tanpa dimintai.
Kabir berkata: “Biariah terjadi, apa yang harus terjadi.
Aku tetaplah milik-Nya, untuk selamanya,”
85.
Hatiku merintih, raerindukan kasihku,
Hidup di dalam rumah beratap, atau di jalan raya tanpa atap,
dua-duafriya sama saja, sama-sama menggelisahkan.
Sejak meninggalkan dusun-Nya,
aku tersesat di tengah hutan dunia;
sekarang aku tak tahu lagi
bagaimana mencapai-Nya kembali.
Badanku lelah, hatiku tak tenang,
dan pikiran sungguh menggelisahkan.
Istana-Nya memiliki sekian banyak pintu,
namun sayang, ada lautan Samsara,
lautan kelahiran dan kematian yang tak
berkesudahan,
antara diriku dan Istana-Nya.
Katakan kawanku,
tunjukkan kepadaku cara menyeberangi laut itu.
Dulu, aku masih dapat membangkitkan
gairah cinta di dalam diri-Nya, dengan nyanyianku;
sekarang, alat musikku pun rusak sudah,
dengan suaraku yang sumbang pula,
nyanyian apa yang dapat kupersembahkan kepada-Nya?
Dengan hati berbunga-bunga,
kukatakan kepada keluarga,
“besok aku berangkat untuk bertemu dengan Kasihku.”
Mereka mengejekku,
mereka marah, mereka melarangku.
Kata mereka, “Kau pikir kau siapa?
Begitu dekatkah kau dengan Sang Kekasih,
sehingga dapat menemui-Nya kapan saja?”
Kawanku, bantulah aku, beri aku kekuatan,
biarlah aku melewati malam akhir
perpisahan ini dalam kasih-Nya.
Kabir berkata, “Dengarkan rintihan hatiku
yang sangat merindukan Sang Kekasih.
Biarlah aku melek semalam suntuk,
Besok pagi aku pasti berangkat untuk
bertemu dengan-Nya.”
86.
Kenali, dan layani Tuhan
yang berada dalam kuil Kehidupan ini.
Dalam kegelapan malam,
janganlah kau berkeliaran seperti orang gila,
mencariNya ke mana-mana.
Selama berabad-abad la telah menungguiku.
la berada begitu dekat denganku,
aku saja yang tak sadar akan kehadiran-Nya.
Tidak sadar karena belum kenal cinta.
Tapi, sekarang aku sudah kenal cinta.
Kekasihku  telah  menjelaskan  arti  cinta kepadaku.
Sungguh beruntunglah aku,
Kabir berkata, “Lihat, lihat, betapa beruntung-nya aku.
Kekasihku telah menyentuh jiwaku!”
87.
Awan gelap hampir menutupi langit,
suara geledek terdengar dahsyat.
Sebentar lagi turun hujan lebat,
jagalah ladangmu dengan baik.
Perbaiki pagar dan selokan air,
jangan sampai tanamanmu rusak,
hanyut dilanda banjir.
Hanya seorang petani yang pintar, yang bijak
dapat menyelamatkan tanamannya dari bahaya banjir.
Kemudian, menikmati hasil panennya bersama para Insan Allah lainnya.
88.
Hari ini aku sungguh bahagia, aku tak pernah sebahagia hari ini,
Hari ini, Kekasihku datang bertamu ke rumahku.
Kehadiran-Nya telah mempercantik pekarang-an rumahku,
memperindah kamar tidurku. Kerinduanku selama ini sungguh tak seban-ding
dengan apa yang telah kuterima dari-Nya. Sambil mencuci kakiNya,
aku pun menatap wajah-Nya,
dan kuserahkan segala yang kumiliki kepada-Nya,
ragaku, hatiku, pikiranku—semuanya.
Hari ini sungguh hari yang membahagiakan, kekasihku datang bertamu ke rumahku! S
egala kebatilan dalam diri pun sirna dengan sekali saja menatap wajah-Nya.
“Tersentuh oleh cintaku, la telah datang,
la yang adalah Kebenaran Sejati!” Demikian Kabir,
pelayan para pencinta Alllah, bernyanyi girang.
89.
Adakah kau mendengar Irama Ilahi
yang berasal dari langit nun jauh di sana?
Senantiasa la mengisi setiap sudut semesta
dengan irama-Nya.
Senantiasa la memberi,
namun tak pernah kekurangan.
la yang masih berada dalam
kesadaran jasmani, selalu merindukan-Nya.
Karena, ia hanya dapat menjangkaui-Nya
sebatas kesadarannya.
Bila ia meniti jalan lebih dalam lagi,
bila ia menembus kesadaran jasmani,
Sumber Irama pun pasti ketemu.
“Inilah Dia, Dialah ini”; kemudian perpisahan
dan pertemuan pun melebur menjadi satu.
“Itulah,” kata Kabir, “Sabda Allah, Sabda Awal!”
90.
Siapa yang dapat memperkenalkanku dengan Sang Kekasih?
Kabir menjawab,  “Tak ada hutan tanpa pohon.
Dengan mengabaikan pepohonan,
kau tak akan pernah mengenal hutan.
Dengan mengabaikan kasih,
kau tak akan pernah mengenal Sang Kekasih.”
91.
Berbagai macam ilmu telah kukuasai,
dan mereka menganggapku seorang ilmuwan.
Tapi, apa gunanya ilmuku
bila jiwaku  larut,  hanyut dalam sungai kehidupan?
Apa gunanya pengetahuan yang kumiliki,
bila jiwaku masih kering,
dan hati terbakar oleh nafsu?
Keangkuhanmu karena berilmu,
karena berpengetahuan, sungguh tak berarti.
Kabir berseru, “Bebaskan dirimu dari rasa angkuh,
dan bergegaslah untuk bertemu dengan Kekasih,
Dialah Tuhanmu!”
92.
Sambil merindukan Kasih-Nya yang terpisah,
seorang wanita menyibukkan diri dengan menenun kain,
Lihat, betapa indahnya tenunan dia!
la seolah membangun sebuah kota dengan tenunannya.
Di dalam kota itu ia membangun pula sebuah Istana Hati.
Kemudian, ia menempatkan di dalamnya,
Takhta Kesadaran bagi Sang Kekasih.
Cahaya Kasih menerangi Kota Tenunannya.
Kabir berkata, “Pagi  dan  malam telah kujadikan benang
untuk menenun sebuah kalung untuk-Nya.
Saat la datang dan menyentuhku dengan ujung kaki-Nya,
Aku pun akan mempersembahkan tenunanku
dengan air mata berlinang.”
93.
Jutaan matahari, bulan, dan bintang berkilau
di bawah payung Sang Raja!
lalah rasa di balik hati yang merasakan,
la pula cahaya di balik mata yang melihat.
Mungkinkah hati dan mataku bersatu?
Mungkinkah aku melihat Dia yang
kurasakan Kehadiran-Nya?
Dapatkah kerinduanku terobati?
Kabir berkata: “Bila kau pertemukan
Kasih dengan Sang Kekasih,
kau capai kesempurnaan dalam Kasih.”
94.
Duka tak dikenal di negeriku, sobatku! Kuundang para pengemis dan penguasa,
rakyat jelata dan para maharaja, bila kau ingin hidup di bawah naungan-Nya,
datang dan menetaplah di negeriku! Kuundang mereka yang lelah, letih,
datanglah, dan lepaskan segala bebanmu di sini.
Dari tempat itu, dengan mudah kau dapat mencapai pantai seberang.
Tak ada bumi di sana,
tak ada pula langit, tak ada bulan dan bintang.
Cahaya yang menerangi tempat itu
bukanlah cahaya biasa.
Cahaya yang menerangi tempat itu
adalah Cahaya Ilahi.
Kabir mengingatkan: “Sobatku, kawanku,
tak ada yang lebih penting dari pada Kebenaran Hakiki!”
95.
Bersama Dia, aku datang ke rumah-Nya,
tapi aku tidak menetap bersama Dia,
aku tidak tinggal bersama-Nya.
Masa mudaku tersia-siakan,
berlalu sepeti mimpi.
Para sahabat bercerita
tentang suka dan duka perkawinan;
aku terpengaruh dan meninggalkan
rumah suamiku seusai upacara perkawinan.
Para kerabat berusaha menghiburku.
“Tapi, sekarang aku tak akan terpengaruh lagi,”
kata Kabir, “dengan bekal kasih dalam hati,
sekarang aku pergi  menuju rumah Sang Kekasih.
Berada di sisi-Nya, aku baru akan menyanyikan Lagu Kemenangan.”
96.
Hatiku sayang,
untuk  apa  membuang  waktu  bermalas-malasan,
bila kau sungguh mencintai-Nya?
Untuk apa pula menyisihkan sesuatu,
serahkan dirimu sepenuhnya.
Jangan sampai, sekali lagi, kau kehilangan Dia!
Janganlah kau membuang waktu, membenahi ranjangmu,
bila saat untuk bercumbuan dengan-Nya sudah tiba.
Kabir berkata, “Serahkan segalanya kepada Dia, termasuk kepalamu.
Tak ada yang perlu kau tangisi.
Para pencinta tak pemah mengeluh,
bila kepala mereka terpenggal karena cinta.
Itu Jalan Cinta, Jalan Kasih!”
97.
Tuhah berada di dalam diriku,
la berada di dalam dirimu;
Sebagaimana kehidupan berada dalam setiap benih.
Bebaskan dirimu dari keakuanmu,
dan temukan Dia yang berada dalam dirimu.
Jutaan matahari terbit bersamaan di langit jiwaku;
raenghadapi carut-marut kehidupan,
di tengah hiruk-pikuk dunia,
sudah tak gelisah lagi aku.
Di dalam sini,
terdengar jelas suara bedug dan genta,
dimainkan oleh tangan yang tak terlihat.
Hujan pun turun mengguyuri setiap jiwa
dengan Cahaya, bukan dengan air!
Sesungguhnya hanya Satu Kekuatan
yang meliputi jagat raya, alam semesta;
Kekuatan Rasa, Cinta, Kasih.
Sayang, yang mengetahui hal itu
hanyalah segelintir jiwa.
Mereka yang percaya pada
kekuatan akal sungguh buta.
Akal dan pikiran berada
sangat jauh dari Dia,
memisahkanmu dari Sang Kekasih.
Sungguh beruntung Kabir,
yang dapat menyanyi ceria dari dalam diri,
yang dapat merayakan pertemuan jiwa dengan Sang Jiwa Agung,
Terlupakan sudah segala duka,
dan terlampaui pula kelahiran dan kematian yang tak berkesudahan.
98.
Musim Pertemuan pun akan tiba sebentar lagi,
siapa yang dapat mempertemukan diriku dengan Kasihku?
Betapa cantiknya Dia,
apa yang dapat kukatakan tentang kecantikan-Nya?
Dialah Wujud-Nyata Kecantikan.
Keindahan alam berasal dari Dia.
Setiap jiwa, setiap raga terpesona oleh-Nya.
Mereka yang telah tersentuh oleh kasih-Nya,
tahu persis makna pertemuan dengan Sang Kekasih.
“Namun,” kata Kabir, “sayang, tidak banyak
yang tersentuh dan memahami makna itu,”
99.
Wahai Narad, Pencinta Allah,
aku tahu bahwa Sang Kekasih tak jauh dari diriku.
Saat la jaga, aku pun ikut terjaga.
Ketika la tidur, aku tidur pula.
Sungguh malang mereka
yang tak hidup bersama Dia.
Aku hidup di mana namaNya dimuliakan.
Saat la berjalan,
aku pun jalan bersama-Nya.
Senantiasa hatiku merindukan Dia.
Dia yang adalah tujuan akhir setiap Peziarah Kehidupan.
Jutaan peziarah berkumpul,
mengerumuni rumah-Nya.
“Sang Kekasih sendiri,” kata Kabir,
“yang mengetariui makna Kasih,
dan telah mengungkapkannya kepadaku.”
100.
Siapkan Ayunan Cinta hari ini,
biarlah jiwa dan ragamu
berayun di tengah lengan Kasihmu!
Dengan lembah kasih di matamu,
biarlah wajahmu mendekati wajah-Nya.
Berbisiklah dengan Dia,
tuangkan isi hatimu.
“Dengarkan nasihatku,” kata Kabir,
biarlah wajah-Nya saja
yang bersemayam dalam hatimu.”
THE END.
Categories: Uncategorized

Navigasi pos

Komentar ditutup.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: